Fenomena COVID-19 memukul keras sektor pariwisata Indonesia. Wabah ini mengakibatkan jumlah kunjungan wisatawan menurun drastis dan memaksa ratusan hotel, tempat hiburan, jasa transportasi, serta destinasi wisata untuk menghentikan kegiatan operasinya. Akibatnya, ribuan pekerja harus kehilangan mata pencaharian karena perusahaan harus melakukan penghematan, beberapa bahkan terpaksa harus gulung tikar.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pada Maret 2020 tak lebih dari 471,000 turis mancanegara datang berkunjung ke Indonesia, angka ini mengalami penurunan sebesar 64% dari jumlah turis yang datang pada bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Bahkan jumlah turis dari Tiongkok, yang notabene merupakan salah satu penyumbang terbesar proporsi turis mancanegara menurun sampai 97%.
Sektor pariwisata Indonesia tidak akan sama lagi pasca COVID-19. Setelah dihantam sebegitu kerasnya, bagaimana sektor ini akan pulih? Hal apa saja yang berubah dari sisi pelayanan dan perilaku wisatawan?
Konsep Slow Tourism
Terkait dengan konsep Slow Tourism, salah satu pakar pariwisata, Metin Kozak, berpendapat bahwa “slow tourism focuses on local populations, longer lengths of stay, and more fulfilling tourist experiences. Tourists can thus prioritize travel quality over quantity“. Pasca Corona, perkembangan sektor pariwisata dunia, termasuk Indonesia akan menyesuaikan dengan perilaku masyarakat. Wisatawan akan lebih berhati-hati dalam berwisata, memprioritaskan perjalanan dalam negeri, mengurangi intensitas perjalanan, tetapi cenderung memperpanjang durasi wisata. Singkatnya, pasca COVID wisatawan akan lebih memilih kualitas daripada kuantitas.
Tentunya lingkungan yang sehat akan menjadi kualitas utama yang dicari oleh wisawatan. Maka dapat dipastikan berbagai tempat penginapan dan destinasi pariwisata akan merubah prosedur kebersihan dan kesehatan yang dimiliki. Sebagai contoh penambahan jadwal cuci, pemberlakuan sterilisasi ruangan, penyesuaian seragam pegawai, sampai pemasangan kamera termal di setiap sudut ruangan.
Peningkatan kualitas ini akan menjadi tantangan untuk berbagai macam homestay dan usaha sewa kamar berkonsep B&B. Standar kualitas yang sama akan sulit mereka penuhi. Selain itu mereka juga harus bersaing dengan jaringan hotel terkemuka yang memberikan peningkatan kualitas pelayanan ditambah dengan berbagai macam potongan harga untuk menarik sejumlah kecil wisatawan di awal masa pemulihan.
Walaupun demikian, berita baik tetap ada untuk usaha kecil berbasis aktivitas pariwisata. Pembatasan frekuensi perjalanan akan membuat wisatawan cenderung untuk meningkatkan durasi berwisata mereka dan dalam periode tersebut mereka akan mencari berbagai macam aktivitas baru di destinasi wisata tertentu.
Smarter Tourism Setelah COVID-19
Selama masa pendemi COVID-19 terjadi adopsi besar-besaran teknologi video conference, mobile application, dan digital surveillance. Berbagai teknologi ini telah membantu masyarakat untuk terus beinteraksi dan menjaga produktivitasnya dalam menjalani social distancing. Pasca COVID-19 peran dan kontribusi teknologi digital akan semakin besar.
Keterbiasaan dalam menjaga jarak fisik akan lebih mempopulerkan pelayanan non-fisik dalam pariwisata. Wisatawan akan lebih memilih e-payment daripada pembayaran menggunakan mata uang uang kartal, begitu juga dalam proses reservasi, berbagai macam tiket penginapan maupun pertunjukan akan disediakan dalam bentuk digital sehingga proses check in tidak perlu lagi memerlukan kegiatan bertatap muka dan interaksi langsung.
Melalui smart tourism apps wisatawan dapat melihat jumlah kunjungan di berbagai macam destinasi pariwisata dan hotel. Dengan demikian, dalam masa pemulihan dari wabah Corona, wisatawan dapat menghindari lokasi-lokasi yang padat pengunjung. Teknologi Augmented Reality juga akan memberikan kemudahan dan pengalaman baru menjejahi berbagai landmark, museum ataupun situs bersejarah dengan navigasi yang memperhatikan jumlah dan lalu lintas crowd.
Teknologi digital analytics dan data visualization membantu pihak berwenang untuk terus memantau perkembangan pariwisata pasca COVID-19. Setiap perpindahan wisatawan dan penambahan kunjungan destinasi wisata akan tervisualisasikan dalam suatu dashboard terintegrasi. Hal ini membuat kegiatan pariwisata akan tetap terukur dan terpantau serta memberikan dasar bagi pemimpin daerah maupun pihak terkait untuk mengambil tindakan cepat dalam rangka memastikan ketertiban dan keamanan wisatawan pasca terjadinya fenomena COVID-19.


